Melihat Kegagalan Cisco & IBM vs Kesuksesan Apple

|
Apple yang sukses memamerkan iPad dan iPhone ke end user menimbulkan kecemburuan di pemain pasar korporasi. Meskipun begitu, tak banyak yang berubah haluan kemudian sukses.

Secara sederhana berdasarkan kelompok konsumen, pasar dibagi menjadi dua yaitu pasar korporasi (menjual barang ke perusahaan-perusahaan) dan pasar konsumen (menjual produk secara retail). Berdasarkan catatan sejarah, tidak banyak perusahaan korporasi yang sukses ‘mencemplungkan diri’ ke pasar konsumen.

Cisco misalnya. Perusahaan teknologi besar di AS itu mengumumkan akan menutup divisi kamera video Flip mereka. Padahal, dua tahun sebelumnya, Cisco membeli perusahaan Flip dengan harga US$590 juta.

Lalu, kenapa masih banyak yang tergiur? Sebagai permulaan, pasar saham memberikan ‘penghargaan’ yang sangat pantas bagi produk konsumen yang sukses. Pasar mereka tidak hanya milik perusahaan, tetapi juga menjadi sebuah tren perubahan budaya.

Apple misalnya, harga saham mereka 18,5 kali laba per saham. Di sisi lain, saham Cisco Sytems senilai 13 kali laba per saham. Namun, pernahkah Anda melihat orang mengantri panjang untuk menggunakan solusi jaringan Cisco? Harga saham Cisco jatuh sekitar 3,5% pekan lalu meski ‘sempat’ bermain di pasar konsumen. Tahun ini, total penurunan sekitar 16%.


“Bagi perusahaan yang bermain di pasar korporasi, pasar konsumen tampak menggiurkan,” kata Andrew Zolli, konsultan dan direktur PopTech, penyelenggara konferensi teknologi tahunan di AS. “Tapi, banyak perusahaan yang gagal terpuaskan.”

Cisco termasuk perusahaan berpengaruh di dunia jaringan digital dengan pengalaman setidaknya 30 tahun. Sebagai salah satu perusahaan terbesar di dunia, kapitalisasi pasar mereka bahkan jauh melampaui Goldman Sachs, McDonald’s ataupun Ford. Sayangnya, ambisi Cisco untuk ke pasar konsumen tidak berhasil.

Cisco tidak sendirian masuk ke daftar gagal. Di Amerika Serikat pada 1995, produsen modem komputer US Robotics membeli Palm, produsen perangkat digital pribadi. Seiring berjalannya waktu, Palm tidak juga menguntungkan US Robotics sehingga diserahkan ke 3Com lalu Hewlett-Packard. Sekarang, Palm diposisikan untuk bersaing dengan Apple, Google dan Research in Motion dalam pasar smartphone.

“Ini sangat sulit memperkirakan jumlah uang dan energi yang seharusnya diserahkan ke ruang konsumen,” kata analis industry Mark Anderson. “Padahal, jika Anda berada di pasar korporasi, itulah yang Anda inginkan.”

IBM mungkin merupakan perusahaan yang sukses melebarkan sayap bergerak dari pasar korporasi ke dunia PC konsumen pada awal 1980-an. Sayangnya, kesuksesan itu bukan tanpa aturan ketat. IBM mendirikan divisi otonom di Florida, jauh dari kantor pusat mereka di New York untuk memberikan ruang bagi pertumbuhan PC mereka.

“Satu-satunya cara bagi PC dapat berkembang adalah keluar dari birokrasi IBM,” ujar sejarawan bisnis John Steele Gordon, dikutip dari New YorkTimes. Di sisi lain, ini menunjukkan bahwa kesuksesan PC IBM bukanlah sepenuhnya karena IBM itu sendiri, kata Gordon lagi. Sayangnya, grup PC IBM dijual ke Lenovo di 2005.

Membangun bisnis konsumen dan sukses mengintegrasikan hal tersebut ke lingkup lebih besar merupakan tantangan yang dirasakan pebisnis korporasi, kata Zolli. Perusahaan korporasi mengakuisisi pebisnis konsumen untuk menciptakan sinegi. Sayangnya, sinergi ini kadang ilusi, tegas Zolli. Perkawinan itu hanya menciptakan beban emosional dan merugikan.

Perusahaan yang terkenal, dalam sejarah panjang, memiliki kehidupan ganda (menjual produk ke end user dan perusahaan) terkadang pada akhirnya menyadari bahwa sandiwara itu tidaklah layak dipertahankan.

Januari lalu, setelah 82 tahun menjual produk konsumen serta korporasi, Motorola ‘membelah diri’. Motorola Solutions menjual dan memproduksi sistem telekomunikasi bagi pasar korporasi. Di sisi lain, Motorola Mobility berfokus pada produksi dan penjualan produk untuk pasar konsumen, tablet Xoom dan smartphone Atrix, misalnya.

“Kami menyadari bahwa kami memiliki bisnis yang akan bertambah kuat dalam mencapai tujuan bila memiliki entitas yang terpisah,” kata Direktur Keuangan Motorola Mobility Marc Rothman. (inilah)

0 komentar:

Poskan Komentar

Next Prev
▲Top▲